A.
Pendahuluan
Protein
Protein merupakan zat
makanan yang penting bagi tubuh, karena di samping sebagai sumber energi, juga
merupakan zat pembangun tubuh, sehingga teknik biokimia untuk menentuan urutan
dan komposisi asam amino dalam makanan yang banyak mengandung protein merupakan
teknik yang perlu dikembangkan lebih lanjut.
Kebutuhan protein tubuh
sekitar 1 g protein/kg berat badan per hari. Bila dua jenis protein yang
memiliki asam amino essensial pembatas yang berbeda dikonsumsi bersama-sama,
maka kekurangan asam amino dari satu protein dapat ditutupi oleh asam amino
sejenis yang berlebihan pada protein yang lain, sehingga protein tersebut
saling mendukung, karenanya perlu sekali pengetahuan mengenai gizi dan susunan
asam amino makanan.
Telah banyak metode
yang digunakan untuk menentukan urutan asam amino dari suatu protein. Metode
manual dengan kromatografi kertas dan lapis tipis telah dikembangkan untuk
memisahkan asam amino hasil hidrolisis protein dengan menggunakan sistem
variasi
pelarut, namun metode ini memiliki
pemisahan yang terbatas.
Metode lain yang cukup
menjanjikan untuk analisis asam amino adalah dengan kromatografi gas-cair.
Hanya sejumlah kecil asam amino yang dibutuhkan yaitu 10"n mol dan
membutuhkan waktu yang singkat. Kesulitan yang sering timbul adalah bahwa asam
amino merupakan senyawa yang non volatil. Kebanyakan asam amino akan
terdekomposisi di bawah titik leburnya saat diinjeksikan pada alat. Berdasarkan
hal itu maka asam amino perlu diderivatifkan terlebih dahulu untuk membentuk
senyawa yang stabil terhadap panas dan cukup volatil
sehingga dapat dianalisis dengan
kromatografi gas.
Metode terbaru dengan
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) ternyata dapat digunakan untuk
menganalisis asam amino. Metode ini sangat sensitif dan merupakan metode
analisis yang cepat, meskipun membutuhkan persiapan yang cukup mahal.
Keuntungan penggunaan KCKT yang utama adalah tidak dibutuhkan derivat asam amino
yang volatil, dan kemampuannya untuk memisahkan bentuk D dan L dari asam amino.
Masalah pertama dalam
analisis asam amino adalah pemisahan dan sensitifitasnya. Beberapa protein asam
amino mempunyai rantai samping dengan sifat fisik yang dapat langsung diketahui
dalam larutan. Gugus-gugus utama seperti fenilalanin, tirosin, triptopan dapat
dideteksi dengan detektor UV-Vis, fluorosens dan elekttokimia karena mempunyai
gugus aromatik, tetapi secara umum asam amino mempunyai sedikit gugus kromofor
sehingga untuk dapat dideteksi dengan detektor UVVis maka asam amino tersebut
perlu diderivatifkan terlebih dahulu.
Pada penelitian ini
dicoba untuk menganalisis komponen asam amino penyusun protein dalam cumi-cumi (Todarodes
pacifiicus) yang hidup di air laut. Kandungan protein jenis ikan ini cukup
tinggi sehingga menarik untuk dikaji lebih lanjut mengenai komponen asam-asam
amino penyusunnya. Ikan air laut mempunyai kandungan protein dalam kisaran 8-21
% sedangkan ikan air tawar 13,5-17,3 %.4 Reagen penderivatif yang akan
digunakan yaitu PITC dan untuk memisahkan asam amino hasil hidrolisis sampel
digunakan KCKT dengan detektor UV-Vis.
Cumi-cumi
(Todarodespasificus)
Cumi-cumi (Todarodes
pasificus) yang biasa dikenal sebagai ikan mangsi termasuk golongan
binatang lunak (mollusca), kelas cephalopoda yaitu menggunakan kepala
sebagai alat untuk bergerak. Pada bagian kepala terdapat mulut yang dikelilingi
oleh 10 tangan penangkap yang
mempunyai alat penghisap yang berbentuk
bundat. Seluruh organ tubuhnya diselaputi oleh membran/mantel.
Karakteristik dari
cumi-cumi adalah adanya kantung tinta yang terdapat di atas usus besar dan
bermuara di dekat anus. Bila cumicumi diserang musuh, kantung tinta akan
berkontraksi melalui pipa. Hal ini menyebabkan pembentukan awan hitam di
sekililingnya yang memungkinkan cumi-cumi terhindar dari serangan musuh.
Menurut Zaitsev, dkk, cumi-cumi mengandung 78,1-82,5 % air, 0,2-1,4% lemak,
14,8-18,8% protein dan 1,2-1,7 % abu, dan bagian yang dapat dimakan meliputi
badan, kepala, dan tentakel.
Gomez-Guillen,
dkk membandingkan stiuktur dan sifat fisik dari ekstrak gelatin pads beberapa
spesies ikan laut yang berbeda salah satunya adalah cumi-cumi. Analisis asam
aminonya menggunakan alat analisis asam amino Beckman 6300 dan ternyata glisin
mempunyai kandungan terbesar diikuti prolin dan arginin.
Kandungan protein dalam
cumi-cumi memang cukup tinggi. Dalam 100 g daging cumi-cumi mengandung 15,3 g
protein, 1,0 g lemak, 79,3 g air, 1,8 g abu, 3 g karbohidrat dan menghasilkan
energi sebesar 89 kalori, sedangkan kolesterol tidak diternukan.
B. Metodologi Penelitian
1. Alat
dan Bahan
Alat-alat yang
digunakan dalam penelitian ini adalah, Ktomatografi Cair Kinerja Tinggi merk
PERKIN ELMER, LC-oven 101, Shimpack CLC-ODS (C-l 8), diameter 6 mm, panjang 15
cm, ukuran partikel 5 mm dan detektor UV-Vis, LC 295, PH Meter model HM-5B,
Tokyo TOA Electronics Ltd, Japan, Kromatografi gas-Spektroskopi massa merk
Shimadzu QP-5000, Micro Centrifuge, Charles Coffin, syringe ukuran 2-40 ml,
seperangkat alat gelas merk Pyrex. Bahan-bahan kimia yang digunakan dalam
penelitian ini adalah: Cumi-cumi (Todarodes pastficus), Etanol (E.
Merck), tri etil amin (E.Merck), fenilisotiosianat (PITC) (E.Merck), asam
klorida (E.Merck), natrium hidroksida (E.Merck), asetonitril (E.Merck), asam
asetat (E. Merck), natrium asetat.3 H2O (E.Merck), aseton (E.Merck), asam amino
mumi, akuabides.
2.
Prosedur Penelitian
Analisis asam amino standar dilakukan
dengan menderivatisasi terlebih dahulu kedelapan asam-asam amino murni yaitu
glutamat fenilalanin, histidin, prohn, arginin, leusin, valin dan treonin yang
masing-masing dilarutkan dalam akuabides sehingga diperoleh larutan asam amino
0,01 M. Larutan asam amino dikeringkan vakum kemudian dilarutkan dalam pelarut
etanol:air:trietilamin(TEA) = 2:2:1 (v/v).
Campuran larutan
tersebut dikeringkan vakum lagi selama 15 menit, setelah itu ditambahkan
etanol:TEA:air:PITC =7:1:1:1 (v/v) dan dikeringkan vakum selama 20 menit. Hasil
derivatisasi tersebut dilarutkan dalam larutan buffer asetat 0,01 M pH 4,9 :
asetonitril = 62:38 (v/v). Terhadap 3 asam amino yang pertama yaitu glutamat, fenilalanin
dan histidin dilakukan pemanasan saat pengeringan vakum hingga suhu 50 °C.
Asam-asam amino
murni yang telah diderivatisasi dianalisis dengan KCKT. Kondisi KCKT yang
digunakan dalam analisis ini yaitu menggunakan kolom CIS, suhu kolom pada suhu kamar,
laju alir eluen 1 ml/menit dan detektor yang digunakan yaitu detektor UV-Vis
pada 1 254 nm. Sebagai eluen A yaitu larutan buffer asetat pH 4,9 : asetonitril
= 47:3 (v/v) dan eluen B yaitu asetonitril: air = 60 :40 (v/v) dengan program
gradien sebagai berikut:
Sampel cumi-cumi
dibuat tepung terlebih dahulu kemudian dihidrolisis dengan asam klorida dalam
oven hingga suhu 110 °C selama 24 jam. Hasil hidrolisis sampel disentrifugasi
kemudian filtratnya dipisahkan. Filtrat dikeringkan vakum kemudian dilarutkan
dalam etanol:air:TEA = 2:2:1 (v/v). Larutan ini dikeringkan vakum lagi selama
15 menit kemudian ditambahkan etanol:TEA:air:PITC = 7:1:1:1 (v/v). Hasil reaksi
derivatisasi ini kemudian dikeringkan vakum lagi sekma 20 menit kemudian
dilarutkan dalam pelarut buffer asetat pH 4,9 : asetonitril = 62:38 (v/v).
Sampel hasil derivatisasi diinjeksikan ke dalam alat KCKT dengan kondisi yang
sama dengan analisis asam amino standar.
C.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
- Analisis Asam Amino Standar
Pada penelitian ini,
sebagai zat penderivarif digunakan senyawa PITC dan untuk mengetahui
keberhasilan derivatisasi menggunakan senyawa tersebut, mula-mula derivatisasi
dilakukan terhadap 3 asam amino murni yaitu glutamat, fenilalanin dan histidin.
Selama proses derivatisasi, ketiga asam amino murni tersebut dipanaskan sampai
suhu 50 °C, karena ingin diketahui apakah asam amino rusak dengan adanya
pemanasan. Kromatogram yang diperoleh yaitu untuk histidin diperoleh 2 puncak
yaitu pada waktu retensi 9,5 dan 12,7 menit. Kromatogram fenilalanin diperoleh
1 puncak pada waktu retensi 15,5 menit, sedangkan untuk glutamat diperoleh 3
puncak yaitu pada waktu retensi 2,49 , 3,11 dan 22,4 menit. Diduga munculnya
puncak-puncak yang lebih dari satu ada beberapa kemungkinan diantaranya asam
amino rusak dengan adanya pemanasan (saat pengeringan vakum), untuk fenilalanin
hanya diperoleh 1 puncak, hal ini karena fenilalanin relatif stabil dengan
pemanasan. Proses derivatisasi diulangi dan tidak dilakukan pemanasan.
Kromatogram yang diperoleh cukup bagus yaitu glutamat muncul pada waktu retensi
9,978 menit, fenilalanin muncul pada waktu retensi 14,947 menit dan histidin
muncul pada 2,427 menit. Berdasarkan kromatogram dari masing-masing asam amino,
selalu diperoleh 2 puncak kromatogram dan salah satu puncak selalu muncul pada
waktu retensi sekitar 32 menit. Diduga puncak yang muncul pada waktu retensi
tersebut adalah zat penderivatif yang tidak ikut bereaksi/ berlebih. Hal ini
diperkua-1 dengan kromatogram yang diperoleh sant diinjeksikan larutan PITC
murni dan ternyata muncul puncak yang sangat lebar dan tinggi pada waktu
retensi sekitar 32 menit tersebut dan untuk memperbanyak kromatogram standar
dalam analisis asam amino pada sampel, maka dengan prosedur yang satna
derivatisasi dilakukan terhadap 5 asam amino murni yang lain yaitu prolin,
arginin, leusin, valin dan treonin. Hasil analisis dengan KCKT dari kelima asam
amino murni tersebut juga memberikan kromatogram yang cukup bagus yaitu untuk
arginin diperoleh puncak kromatogram pada waktu retensi 2,648 menit, prolin
muncul pada waktu retensi 2,58 menit, leusin pada waktu retensi 15,727 menit,
valin muncul pada waktu retensi 10,662 menit dan treonin muncul pada waktu
retensi 2,013 menit.
Tabel
2
Tinggi Puncak Ktomatogram dan Waktu
Retensi PITC-Asam Amino Murni
|
No
|
Asam Aino
|
Waktu
Retensi (menit)
|
Luas
Area (%)
|
|
1
|
Histidin
|
2,43
|
13,20
|
|
2
|
Fenilalanin
|
14,95
|
18,34
|
|
3
|
Arginin
|
2,65
|
12,04
|
|
4
|
Leusin
|
15,73
|
7,12
|
|
5
|
Prolin
|
2,58
|
41,46
|
|
6
|
Valin
|
10,66
|
13,98
|
|
7
|
Glutamat
|
9,98
|
88,29
|
|
8
|
Treonin
|
2,01
|
7,90
|
- Derivatisasi Asam Amino
Tujuan utama dari
proses derivatisasi asam amino adalah diperolehnya suatu senyawa baru yang
mempunyai gugus kromofor sehingga diharapkan dapat menaikkan sensitivitas
deteksi dengan demikian senyawa baru tersebut dapat terdeteksi dengan detektor
UV-Vis.
Reaksi yang terjadi
pada derivatisasi asam amino adalah reaksi adisi nukleofilik yaitu gugus NH2
dari asam amino menyerang atom C dari PITC, terjadi siklisasi menghasilkan
suatu derivat N-feniltiourea, kemudian dengan lepasnya air maka akan terbentuk
derivat phenylthiohydantoin
(PTH). PTH-asam amino imlah yang dapat
diidenrifikasi secara kromatografi. Waktu retensi dari derivat PTH-asam amino
ini kemudian dibandingkan dengan waktu retensi dari Soam amino standar
yang ada, sehingga asam amino dalam
sampel dapat diketahui.
Secara umum mekanisme
dari reaksi derivatisasi asam amino tersebut adalah sebagai berikut:
R adalah rantai samping
dari asam amino dan asatn-asam amino yang digunakan dalam penelitian ini adalah
glutamat, histidin, fenilalanin, leusin, prolin, treonin, valin dan arginin.
Mekanisme derivatisasi
untuk asam amino glutamat terlihat pada gambar berikut:
Derivatisasi dari ketujuh asam amino
yang digunakan sebagai standar juga mengalami siklisasi membentuk PTH-asam
amino seperti halnya asam amino glutamat.
- Analisis Asam Amino Sampel Cumi-cumi
Filtrat sampel
cumi-cumi hasil hidrolisis yang telah diderivatifkan, dilarutkan dalam 100 ml
larutan buffer asetat 0,01 M pH 4,9: asetonitril = 62:38 (v/v). Sebanyak 20 ml
sampel diinjeksikan ke dalam alat KCKT dengan detektor UV-Vis pada panjang
gelombang 254 nm. Kondisi dan prosedur analisis sampel sama dengan kondisi dan
prosedur analisis asam amino murni yang digunakan sebagai standar.
Berdasarkan kromatogram
yang diperoleh, terlihat bahwa puncakpuncak kromatogram juga memisah cukup
bagus, meskipun masih terlihat pula beberapa puncak-puncak kecil yang dianggap
sebagai pengotor. Selain itu puncak kromatogram dari PITC yang berlebih juga
masih muncul pada waktu retensi sekitar 32 menit dengan demikian terdapat 8
puncak kromatogram yang dianggap dominan seperti terlihat dalam tabel berikut:
Tabel
3
Waktu Retensi, Tinggi Puncak dan Luas
Area dari Kromatogram Sampel Cumi-cumi
|
No
|
Waktu
Retensi (menit)
|
Tinggi
Puncak (cm)
|
Luas
Area (%)
|
|
1
|
2,79
|
17,5
|
10,29
|
|
2
|
3,10
|
17,3
|
14,39
|
|
3
|
3,31
|
17,2
|
15,83
|
|
4
|
11,05
|
2,2
|
2,24
|
|
5
|
12,34
|
3,0
|
4,02
|
|
6
|
13,71
|
9,1
|
11,89
|
|
7
|
16,16
|
16,2
|
21,95
|
|
8
|
17,19
|
17,0
|
19,41
|
Waktu retensi dari
kromatogram yang diperoleh dalam sampel cumi-cumi dibandingkan dengan waktu
retensi dari kromatogram asam amino standar yang dimiliki dan dari 8 puncak
kromatogram tersebut, hanya 4 puncak kromatogram yang dapat teranalisis yaitu
puncak pada waktu retensi 2,783; 3,1; 3,31 dan 16,158 menit, seperti terlihat
dalam tabel berikut:
Tabel
4
Komponen Asam Amino dalam Sampel
Cumi-cumi setelah Dibandingkan dengan Kromatogram Asam Amino Standar
|
No
|
Waktu
Retensi (menit)
|
Prediksi
Asam Amino
|
|
1
|
2,79
|
Histidin
|
|
2
|
3,10
|
Prolin
|
|
3
|
3,31
|
Arginin
|
|
4
|
16,16
|
Leusin
|
Berdasarkan kromatogram
sampel cumi-cumi di atas terlihat bahwa luas area terbesar adalah pada waktu
retensi 16,16 menit yang rnerupakan puncak kromatogram dari leusin. Hal ini
berarti kandungan leusin dalam cumi-cumi cukup tinggi, sedangkan ketiga asam
amino yang lain yaitu histidin, arginin, dan prolin dapat pula dikatakan berada
dalam jumlah yang cukup besar, terlihat dari tingginya puncak yang dihasilkan.
Penelitian-penelitian
sebelumnya seperti yang dilakukan oleh Konusu dalam Borgstrom (1965) juga
menunjukkan bahwa komponen asam amino penyusun protein dalam cumi-cumi,
mempunyai kandungan prolin yang terbesar (67,3 mg %), diikuti histidin,
arginin, gliski dan alanin.
Leusin, arginin dan
histidin termasuk dalam golongan asam amino essensial yang sangat diperlukan
oleh tubuh sedangkan prolin termasuk dalam asam amino non essensial.
D.
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik
beberapa kesimpulan:
1. Hidrolisis protein tnenggunakan HC1 6
M selama 24 jam pada 110 °C dapat menghasilkan 8 asam amino dalam sampel
cumi-cumi.
2. PITC dapat digunakan sebagai zat
penderivatif dalam menganalisis asam amino menghasilkan suatu senyawa PTH-asam
amino yang dapat menyerap cahaya pada daerah UV-Vis, 1 = 254 nm.
3. Metode KCKT dengan teknik elusi
gradien dapat digunakan untuk memisahkan asam-asam amino penyusun suatu
protein.
4. Hasil pemisahan asam amino yang dapat
teranalisis untuk sampel cumi-cumi yaitu histidin, arginin, prolin dan leusin.
E. Penutup
Analisis komponen asam amino penyususun protein
dalam cumi-cumi yang hidup di air laut dapat dilakukan melalui tahapan analisis
asam amino standar (berdasarkan tinggi puncak kromatogram dan waktu retensi
PITC-asam amino murni), derivatisasi asam amino (berdasarkan perbandingan waktu
retensi dari derivat PTH-asam amino dengan waktu retensi dari asam amino
standar yang ada) dan analisis asam amino cumi-cumi (berdasarkan perbandingan
waktu retensi, tinggi puncak dan luas area dari kromatogram sampel cumi-cumi
dengan kromatogram asam amino standar sehingga asam amino dapat diprediksi).
Daftar Pustaka
Chandrashekar, K., and
Y.G. Deosthale, "ProximateComposition, Amino Acids, Mineral and Trace
Element Content of the Edible
Muscle of 20 Indian
Fish Species," J. Food Comp. Anal., 6, 1993:195-200.
Crippen, R.C., GC/L.C,
Instruments, Derivatives in Identifying Pollutants and Unknowns, New York: Pergamon Press, Inc, 1983.
Croft, L.R., Introduction
to Protein Sequence Analysis, New York: John Wiley & Sons, Ltd, 1980.
Gomez-Guillen, M.C., J.
Turnay, M.D. Fernandez-Diaz, N. Ulmo, M.A. Lizarbe, P. Montero,
"Structural and Physical Properties of Gelatin Extracted from Different
Marine Species: A Comparative Study/' Food HydrocoL, 16, 2002: 25-34.
Poerwadi, Rosmawaty,
PA., Penelitian Mikrobiologi Cumi-cumi selama Penyimpanan Dingin dan Bekif, Laporan
Penehtian Teknologi
Perikanan, 1984.
Winarno, EG., 1991, Kimia
Pangan & Gi%i, Jakarta: Gramcdia Pustaka Utama, 1991.
Zaitsev, V, I.
Kizevetter, L. Lagunov, T. Makarova, L. Minder, and V. Pasevalod, 1969, Fish
Curing and Processing, trans. A.DE Kerindol, Moscow: MIR Publishers, 1969.
Komentar
Posting Komentar